Banjarmasin, 07 September 2010
Pagi ini kuliah dulu dari jam delapan sampai jam setengah satu. Pulang kuliah langsung ke distro buat beliin adik gendut itu dompet. Jam setengah dua habis sholat dzuhur langsung berangkat lagi mudik ke Pangkalan Bun dianter kakak sepupu. Sebenarnya kalau memikirkan kepentingan sendiri sih pulang hari Rabu pagi ya nggak apa-apa juga. Tapi kan kakak sepupu itu juga mau pulang kampung yang kalau perjalannya ditempuh dari Pangkalan Bun, bisa lebih dari setengah hari baru sampai ke rumahnya. Berhubung kami lagi puasa, jadi di mobil sama sekali tidak ada minuman ataupun makanan. Sore hari di Palangka Raya kami mampir di pasar Ramadhan cuma untuk membeli kue-kue dan kurma, tanpa membeli minum (hehhhh…). Setelah meneruskan perjalanan beberapa saat, kami memutuskan untuk membeli air mineral saja di warung pinggir jalan. Sampai waktu berbuka tiba, kami membatalkan puasa di mobil, dan selanjutnya kami singgah di masjid untuk sholat magrib sekaligus menjama’ sholat isya. Sampai di Sampit, kami mampir di warung untuk makan malam.
Pangkalan Bun, 08 September 2010
Pukul 02.45 WIB kami sampai di Pangkalan Bun. Setelah lebih dari 14 jam perjalanan kami tempuh, akhirnya kami sahur di rumah. Seharian di rumah aja, mandi agak siang, dan tidur siang. Mama sudah terus mengingatkan untuk ikut sholat malam berjamaah di musholla jam 01.00 WIB nanti. Saat berbuka lagi-lagi mama mengingatkan, tapi saya diam saja. Mama mengira kalau saya tidak mau ikut (hehehe…, berhasil ngerjain.. *jangan ditiru*), tapi sebenarnya saya ikut kok..
Pangkalan Bun, 09 September 2010
Puasa terakhir di bulan Ramadhan tahun ini. Malam ini sudah malam takbiran. Besok hari raya sudah ada baju yang warnanya senada dengan Siti Bete (tentu saja hijau.. hehe..). Mama sudah masak banyak untuk menjamu tamu besok. Ada bakso sapi dan ikan, ada ikan bakar lalapan, dan yang tidak pernah ketinggalan adalah lontong dan lapat gangan banjar. Fotonya? Hehehe.. saya nggak foto-foto saat liburan ini. Untuk kuenya, mama membuat wadai bingka barandam dan bingka kentang. Kue-kue kering untuk isian toples semuanya beli. Disda ikut membuat bolu gulung tapi tidak dikeluarkan untuk hari pertama lebaran (hanya masalah pada tampilan sebenarnya, tapi rasanya “enak” kok..). Saya ikut-ikutan juga sebenarnya tapi……………. gagal..
Pangkalan Bun, 10 September 2010
Hari Raya Idul Fitri 1431 H tiba, jam lima pagi saya mandi sunnah di hari raya (brrrrrrrrrrr.. dingiiinnnnnnnn). Tanya ke abah, katanya sholat Id jam setengah delapan. Saya pikir kok sama ya kaya’ di banjar… (apa iya ya..). Ternyata begitu jam tujuh kami sampai di masjid, imamnya segera mengambil ancang-ancang untuk memulai sholat (ancang-ancang..???). Kami yang perempuan ini ya kasak-kusuk lah memakai mukena, sajadah gelombang-gelombang, sampai kacamata pun gak ingat saya copot. Selesai sholat, langsunglah mama, Disda, dan saya berbisik-bisik “kaya’nya yang memimpin takbiran tu abah deh (padahal bukan), tadi aja begitu kita sampai, imamnya langsung mau mulai sholat, jangan-jangan emang nungguin abah..” (hehhhhehhh capeknya grasah-grusuh..). Pulang dari masjid langsung ke rumah, langsung ba-a-am-punan. Acara pagi ini selamatan bahaul dulu. Open house hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena bertepatan dengan hari Jumat. Sehingga menjelang sholat Jumat, tamu-tamu sadah tidak ada yang datang. Siang ini cuacanya bersahabat, tidak hujan juga tidak terlalu panas. Setelah anak-anak yang berlarian di halaman depan rumah tidak terlalu banyak lagi, saya langsung minta difotokan oleh Disda bersama Siti Bete yang juga sudah memakai baju baru. Setelah sholat Jumat, tamu-tamu datang lagi sampai sore hari. Malam hari kami semua santai karena sudah tidak ada tamu lagi
Pangkalan Bun, 11 September 2010
2 Syawal 1431 H, biasa dikatakan lebaran hari kedua. Di rumah makanan berat yang tersisa untuk disuguhkan pada tamu hanya bakso. Saya dan Disda berkunjung ke rumah guru SD, guru SMP, dan teman SMP. Hari ini tamu yang datang lagi-lagi hanya sampai sore saja, malam hari santai lagi.
Pangkalan Bun, 12 September 2010
Hari ini adalah hari untuk beberes karena besok mau balik ke Banjarmasin. Banyak yang disangukan ke kami. Kue kering, minumaan bersoda, toples, bunga pajangan, sirup, kue basah, ikan, lapat, gangan ayam, kering kentang, daging, sampai bawang merah dan bawang putih juga (tak akan ada foto..).
Pangkalan Bun dan Banjarmasin, 13 September 2010
Jam setengah tujuh pagi kami berangkat menuju Banjarmasin diantar oleh kakak sepupu yang ada di sini. Sebelumnya sudah melakukan perpisahan dengan Siti Bete. Setelah dipertimbangkan, memang sebaiknya Bete tetap di Pangkalan Bun karena makanannya akan lebih terjamin (mama selalu menggorengkan ikan khusus untuk Siti Bete untuk makan 3 kali sehari), selain itu juga anaknya yang baru berumur 10 hari (lahir 03 September 2010 pukul 03.30 WIB) itu kasihan kalau dipaksakan untuk dibawa ke Benjarmasin (hhh sedih juga sebenarnya).
Jam delapan malam kami sudah sampai di Banjarmasin. Setelah mengantarkan kakak sepupu ke rumahnya, kami sampai juga di rumah kami jam setengah sembilan malam.
Banjarmasin, 14 September 2010
Cerita ini selesai dibuat. Walaupun sempat kesal karena mengira kuliah dimulai hari ini (yang ternyata besok), tapi justru hari inilah saya bisa menuliskan cerita ini sampai sore.
Maaf bila ada kata atau kalimat yang menyinggung perasaan. Silakan beri kritik, saran, dan komentar ya..
Siti Bete jaga dan rawat baik-baik cucu mommy sampai besar ya.. Jangan cari suami baru dulu..


cangkal berkata,
7 Januari 2012 @ 9:31 am
lanjutkan donk critanya rame hehe
salam kenal