OSCE THT

Selasa, 02 Juni 2009

Hari yang menyenangkan menurut Saya, dimana sejak semalam rumah Saya telah dikunjungi dua teman Saya yang ingin belajar persiapan OSCE THT esok harinya. Kami bertukar pikiran mengenai bagaimana cara-cara yang benar dalam melakukan berbagai tindakan pemeriksaan. Karena Saya tuan rumah, memang Saya cukup merasa senang karena pembicaraan Saya cukup baik didengar. Sampai-sampai teman saya berkata, “Wah, rugi nih kalau besok nggak dapat 100”. Memang kami juga diajari oleh kelompok my twins yang telah OSCE THT siklus sebelumnya dengan penguji yang berbeda.

Pada hari-H nya pun karena hari itu memang OSCE terakhir KMBD II, Saya juga dibuat tersipu-sipu karena teman-teman yang duduk di dekat Saya dengan jadwal OSCE yang lain juga berkata, ”Wah Aku lebih percaya belajar dengan Disty deh daripada liat cheklist, nggak ngerti”! Saya sebagai orang yang normal namun “biasa-biasa” saja sempat merasa tersanjung juga dengan perkataan itu.

Hal itu sebelum kuliah pakar terakhir BBM II dilaksanakan. Saat mulai ada penyaji yang mempresentasikan hasil diskusinya, Saya berusaha tenang sambil sesekali memberikan komentar tentang apa yang penyaji sampaikan. Kemudian acara berlanjut pada pemaparan dan komentar dari para pakar. Kebetulan hari itu hanya dua pakar yang menjadi pembicara.

Akhir kuliah pakar, Saya mendapat kabar yang sedikit mengagetkan karena jadwal OSCE kelompok Saya yang seharusnya shift 2 dimajukan menjadi shift 1. Sebenarnya bukannya tidak siap, melainkan memang ada alasan tersendiri bagi Saya mengenai kekagetan karena perubahan jadwal ini (tidak dapat Saya ceritakan).

Langsung ke topik utama pembicaraan saja, intinya Saya tidak lulus OSCE ini dan harus remedial sesuai jadwal. Ada banyak pelajaran yang dapat Saya ambil dari kejadian ini. Pertama adalah memang Saya salah dengan tidak melakukan ibadah wajib. Sebagaimana diketahui bahwa belajar dan berdoa itu harus seimbang. Kedua, Saya kurang mempelajari bagaimana kriteria penguji dan bagaimana materi yang diajarkannya. Ketiga, Saya mungkin telah besar kepala sehingga saat Saya diminta teman-teman untuk mengajari mereka, Saya terlalu bersemangat (hal yang berlebihan itu memang tidak selalu baik). Keempat, Saya mendapatkan pasien yang memang telah Saya ketahui bahwa Ia sangat sensitif apabila ada benda-benda yang harus dimasukkan baik ke telinga, ke hidung, dan ke mulutnya. Sehingga Ia kerap merasa tidak nyaman bahkan sakit. Kesalahan Saya adalah, sekalipun menyakiti pasien itu tidak Saya sengaja, Saya tidak meminta maaf kepada pasien. Yang Saya ingat adalah saat penguji berkata, “Jangan kasar”. Saya langsung merasa saat itu kalau tipis harapan Saya untuk lulus OSCE ini. Memang etika itu sangat-sangat diperlukan.

Sesudah semua anggota kelompok selesai diuji, Kami dikumpulkan kembali untuk diberikan komentar oleh penguji mengenai bagaimana melakukan pemeriksaan yang benar, dan apa saja kesalahan kami yang telah terjadi. Satu yang Saya ingat adalah saat penguji berkata, ”Mahasiswa itu banyak yang pintar, tapi saat Koas dengan dokter ”itu” tidak diluluskan karena tidak dapat menjaga etika di hadapan pasien”. Sekali lagi Saya merasa langsung down terlebih lagi saat penguji kami mengatakan bahwa ada satu dua orang yang tidak lulus OSCE THT ini. Saya mulai berpikir kalau salah satunya itu pastilah Saya. Ternyata hal itu benar-benar terjadi dan lebih parahnya lagi adalah di kartu KMBD saya tertulis komentar penguji yang berbunyi, ”Attitide ke pasien !!”. Tetapi setidaknya Saya patut berterima kasih kepada beliau, karena sekalipun Saya tidak diluluskan, setidaknya secara tersirat beliau mengatakan Saya pintar (Ya Allah ampunilah Saya karena mulai besar kepala lagi). Kalau boleh Saya meminta, Saya harap penguji saat remedial nanti adalah instruktur atau penguji ini saja lagi. Bukan bermaksud menantang, tetapi Saya pikir setidaknya Saya telah belajar kriteria maupun ilmu yang telah diajarkan kedua orang itu. Namun itu terserah saat remedial nanti.

Sekian curhat dari Saya. Saya kembali mengharapkan komentar, kritik, dan saran dari pembaca sekalian. Mohon maaf bila ada tulisan Saya yang kurang berkenan. Terima kasih.

2 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    Sii Eby berkata,

    Yang sabar ya ty… maap kan diriku…. :(

    • 2

      tyty99 berkata,

      Iya.. sy maapkan..
      Sy dah remed kmaren sama instruktur kita tuh.., jd Alhamdulillah kami lulus smua.
      Tp jadinya nilai yg diambil 70 aja..


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.