Apa yang Anda pikirkan saat membaca judul di atas ? Mungkin Anda akan berpikir, ”Kok Disty memilih judul itu ya ?” ”Apa Dia mau menjadi Guru?” Atau mungkin menjadi pejuang kesiangan.
Sebenarnya judul itu terpikir oleh Saya ketika melihat dan membaca Facebook milik saudara Saya, serta banyak lagi tulisan-tulisan dari blog maupun artikel yang ada di internet. Bahasa-bahasa ”gaul” yang sekarang banyak digunakan Saya rasa mulai mengikis bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara Indonesia. Memang sebagai negara yang dihuni oleh berbagai macam suku, bahasa yang beragam tidak terelakkan. Pun sebagai negara berkembang, negara kita memang menyerap kemudian menyaring kebudayan dari luar sehingga cocok untuk diterapkan di negara kita. Hal-hal yang disaring itu dapat berupa apa saja, terutama budaya dan tentunya bahasa. Banyak orang sekarang berbicara menggunakan bahasa yang dicampur-campur antara dalam dan luar negeri, ataupun memelesetkan bahasa sehingga menjadi enak, lucu, atau bahkan aneh didengar. Namun parahnya, bila ada orang lain yang tidak mengerti bahasa tersebut, maka bersiaplah orang itu diperolok dengan kata kampungan, cupu, nggak gaul, walaupun ada saja orang yang mengajarkan bahasa ”gaul” itu tanpa memperolok orang lain.
Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa adalah salah satu isi dari teks sumpah pemuda. Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
- Abdul Muthalib Sangadji
- Purnama Wulan
- Abdul Rachman
- Raden Soeharto
- Abu Hanifah
- Raden Soekamso
- Adnan Kapau Gani
- Ramelan
- Amir (Dienaren van Indie)
- Saerun (Keng Po)
- Anta Permana
- Sahardjo
- Anwari
- Sarbini
- Arnold Manonutu
- Sarmidi Mangunsarkoro
- Assaat
- Sartono
- Bahder Djohan
- S.M. Kartosoewirjo
- Dali
- Setiawan
- Darsa
- Sigit (Indonesische Studieclub)
- Dien Pantouw
- Siti Sundari
- Djuanda
- Sjahpuddin Latif
- Dr.Pijper
- Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
- Emma Puradiredja
- Soejono Djoenoed Poeponegoro
- Halim
- R.M. Djoko Marsaid
- Hamami
- Soekamto
- Jo Tumbuhan
- Soekmono
- Joesoepadi
- Soekowati (Volksraad)
- Jos Masdani
- Soemanang
- Kadir
- Soemarto
- Karto Menggolo
- Soenario (PAPI & INPO)
- Kasman Singodimedjo
- Soerjadi
- Koentjoro Poerbopranoto
- Soewadji Prawirohardjo
- Martakusuma
- Soewirjo
- Masmoen Rasid
- Soeworo
- Mohammad Ali Hanafiah
- Suhara
- Mohammad Nazif
- Sujono (Volksraad)
- Mohammad Roem
- Sulaeman
- Mohammad Tabrani
- Suwarni
- Mohammad Tamzil
- Tjahija
- Muhidin (Pasundan)
- Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
- Mukarno
- Wilopo
- Muwardi
- Wage Rudolf Soepratman
- Nona Tumbel
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu”Indonesia Raya” gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang yaitu :
a. Kwee Thiam Hong
b. Oey Kay Siang
c. John Lauw Tjoan Hok
d. Tjio Djien kwie
Boleh-boleh saja kita mengetahui bahasa “gaul”, tetapi hendaknya juga dengan kesadaran tinggi bahwa kita memiliki bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Jangan sampai anak-anak yang baru bisa berbicara hanya tahu bahasa-bahasa “gaul” itu. Bahasa daerah sebagai bahasa ibu suku masing-masing juga sebenarnya penting dipelajari atau diajarkan karena itulah cirri khas dan juga kekayaan bangsa kita. Sebanarnya hati Saya juga cukup tergelitik(baca: miris) saat membaca di koran bahwa Miss Kalimantan Selatan pada pemilihan Miss Indonesia beberapa waktu yang lalu bukan puteri daerah asli Kalimantan Selatan dan tidak fasih berbahasa Banjar yang merupakan bahasa ibu Kalimantan Selatan. Kemudian bahasa asing juga penting diketahui karena itu adalah bagian dari pembelajaran dan ilmu itu sangat penting saat kita berbicara di kancah internasional. Saya pun mengakui, bahwa Saya tidak terlalu bisa berbahasa asing seperti bahasa Inggris sebagai bahasa internasional maupun bahasa asing lainnya. Tetapi untuk mengimbanginya Saya juga berusaha berbahasa Indonesia yang baik tanpa mencampurnya dengan bahasa “gaul” itu.
Tanpa bermaksud menggurui, Saya menghimbau kepada para pembaca untuk mencintai dan menggunakan Bahasa Indonesia dalam komunikasi keseharian. Kiranya hanya ini yang dapat Saya tulis. Saya mengharapkan komentar, kritik, dan saran dari pebaca sekalian terhadap tulisan ini. Mohon maaf kepada penulis artikel (tulisan berwarna biru) karena Saya tidak mencantumkan referensi dalam tulisan ini disebabkan keterbatasan yang tidak dapat saya ceritakan disini. Terima kasih.
Wordfresh Aggregator Community berkata,
7 Juni 2009 @ 11:43 am
Nice Post..
Salam Kenal Dan Salam Persahabatan dari kami Wordfresh Community
tyty99 berkata,
7 Juni 2009 @ 3:31 pm
Terimakasih atas komentarnya..
Salam kenal dan salam persahabatan juga dari Saya..
Ricardo Gomes berkata,
7 Juni 2009 @ 10:39 pm
Merdeka… hehehehe… salam kenal yah.
tyty99 berkata,
9 Juni 2009 @ 6:17 am
Salam kenal juga…:)
Sii Eby berkata,
21 Juni 2009 @ 8:27 am
aih ibu bebek…. jd terkenang jaman behuela kah jd posting sumpah pemuda? hihihihi….
tyty99 berkata,
1 Juli 2009 @ 6:47 am
Eh..,, jgn mcm2 !!
Sy t cmma iseng saja..
arsyil berkata,
2 Juli 2009 @ 12:29 pm
Hidup bahasa Indonesia.!